mahasiswa di Jepang
Mahasiswa di Jepang: Bagaimana Keseharian Mereka?
March 3, 2019
Suasana Bersekolah di Jepang Dulu dan Sekarang
March 25, 2020

Tingginya Budaya Membaca Bangkitkan Dunia Literasi Jepang Sumber: https://theculturetrip.com/

Jepang terkenal dengan budaya disiplin yang tertanam di kebiasaan masyarakatnya. Selain itu, Jepang juga termasuk negara yang mandiri dan tidak pernah terlalu menggantungkan nasibnya kepada negara lain. Di negara maju tersebut sikap disiplin dan bertanggung jawab sudah ditanamkan dan diaplikasikan sejak dini. Di sana, kita jarang sekali melihat siswa yang terlambat datang ke sekolah. Rata-rata anak sekolah di Jepang selalu datang tepat waktu ke tempat belajarnya, yakni sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Selain itu, untuk tingkatan pendidikan tinggi, para mahasiswa disana pun telah memulai hidup yang mandiri dengan tidak meminta uang bekal kepada orang tua. Mereka biasanya akan berinisiatif untuk mencari mencari pekerjaan paruh waktu atau biasa disebut “Arubaito”, demi membayar sendiri biaya hidup dan kuliahnya.

Salah satu kebiasaan positif lainnya di Jepang adalah kebiasaan gemar membaca. Hampir disetiap fasilitas publik seperti di kendaraan umum, di taman kota, bahkan saat menunggu antrian pun tak jarang kita akan melihat beberapa orang Jepang sedang asyik bercengkrama dengan sebuah buku di tangannya. Tidak peduli dengan kondisi berdesakan saat di keramaian sekalipun, mereka lebih memilih menghabiskan waktunya dengan membaca buku, apapun jenisnya dibanding dengan bermain gadget. Atas dasar itu, kemampuan literasi masyarakat Jepang pun terus berkembang pesat dan memiliki presentase yang lebih tinggi dari negara-negara di belahan dunia lain.

Literasi merupakan kemampuan seseorang atau kelompok tertentu dalam memahami ilmu pengetahuan melalui bacaan dan tulisan. Literasi sangat berperan penting terhadap kemajuan sebuah negara. Negara yang mayoritas masyarakatnya memiliki potensi yang baik dalam literasi, seperti Jepang, tidak akan kesulitan untuk selalu memperbaharui inovasi di bidang ilmu pengetahuan mengikuti perkembangan zaman modernisasi seperti sekarang. Terdapat beberapa macam literasi diantaranya yaitu literasi kesehatan, literasi informasi, literasi kritik, literasi finansial, literasi statistik, literasi teknologi, literasi digital, literasi data, dan literasi visual.

Tingginya Budaya Membaca Bangkitkan Dunia Literasi Jepang

Sumber: https://www.cfr.org/

Gerakan literasi harus gencar disosialisasikan sekaligus diterapkan pada seluruh lapisan masyarakat. Dengan kemampuan literasi yang baik, maka kualitas atau taraf kehidupan suatu masyarakat akan terus meningkat seiring perkembangan di zaman digitalisasi ini. Kemampuan literasi juga dapat memberikan efek bagi pertumbuhan penduduk, penurunan angka kematian, pemberantas kemiskinan, dan lain sebagainya. Budaya membaca seperti dicontohkan masyarakat Jepang, dapat menjadi indikator kemajuan sebuah bangsa.

Sejarah Singkat Dunia Literasi Jepang yang Terbaik di Dunia

Kita tentu sering mendengar pendapat bahwa “buku adalah jendela peradaban dan kunci perubahan dunia”. Namun, sudahkah kita merealisasikannya di dalam kehidupan sehari-hari? Hal itulah yang dapat kita temui pada diri masyarakat Jepang yang kaya akan dunia literasi. Sebuah studi mengatakan bahwa resiko pengangguran dan buruknya kesehatan akan lebih besar didapat oleh orang dengan tingkat literasi yang rendah. Sedangkan, orang dengan kemampuan literasi tinggi, yakni seputar membaca dan menulis memiliki 60% penghasilan yang lebih besar dibanding mereka yang memiliki literasi rendah.

Menurut penelitian yang dilaporkan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) terhadap 166.000 orang partisipan dari total 24 negara di dunia dengan rentang usia 16-65 tahun, menyatakan bahwa orang dewasa Jepang memiliki kemampuan lebih dalam mengolah informasi dan mencari teks-teks padat dibanding orang-orang yang berasal dari negara lain. Selain itu, laporan tersebut mengatakan orang Jepang usia 25-34 tahun dengan status telah menyelesaikan pendidikan tingkat SMA ternyata memiliki kemampuan menulis jauh diatas orang-orang lulusan perguruan tinggi di Italia dan Spanyol dari kelompok usia yang sama.

Seorang peraih Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen mengamati kebangkitan negara Jepang dari segi literasi atau aksaranya. Ia memperkirakan bahwa Jepang mulai bangkit sejak era restorasi Meiji, tepatnya di pertengahan abad ke-19. Hal itu dimulai Jepang dengan melakukan membangun kualitas masyarakatnya melalui pemberantasan angka buta huruf. Terbukti pada tahun 1913, negara Jepang berhasil menjadi salah satu produsen buku terbesar di dunia dengan jumlah terbitan buku yang banyaknya bahkan melebihi pencapaian Amerika Serikat pada saat itu. Selain itu, Jepang pada masa itu telah memiliki tingkat keaksaraan yang tinggi dibandingkan negara-negara di benua Eropa.

Pada masa kini, strategi pemerintah Jepang untuk terus mempertahankan budaya membaca masyarakatnya adalah dengan memasuki desain manga didalam setiap terbitan materi kurikulum pelajaran SD, SMP, maupun SMA yang tentunya lebih menarik perhatian murid-murid untuk gemar membaca buku-buku pelajaran. Selain itu, kecepatan proses penerjemahan buku-buku berbahasa asing kedalam Bahasa Jepang juga menjadi salah satu dorongan budaya membaca yang kuat bagi orang Jepang. Biasanya dalam beberapa minggu setelah terbitnya buku-buku berbahasa asing, maka terjemahan buku-buku tersebut dalam Bahasa Jepang juga telah tersedia. Hal tersebut memudahkan bagi orang-orang Jepang yang notabenenya kurang fasih dalam berbahasa Asing untuk membaca dan mempelajari buku-buku berbahasa Asing.

Konon, legenda penerjemahan buku-buku asing tersebut sudah bermula sejak tahun 1684, diiringi dengan pembangunan institut penerjemahan di Jepang yang terus berkembang hingga masa modern seperti saat ini. Pada tahun 1962, pemerintah Jepang pun mengambil kebijakan publik khusus untuk terus memperbaiki taraf hidup masyarakatnya dengan memberikan dorongan atau motivasi bagi masyarakat Jepang untuk kembali ke sekolah (Kikosushijo). Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah Jepang dari kebijakan itu antara lain membeli lahan untuk pembangunan sekolah bermutu tinggi, menyediakan fasilitas buku-buku bacaan gratis, serta mengirim para guru lokal untuk bisa menimba ilmu di berbagai universitas ternama di luar negeri. Itulah mengapa kualitas sumber daya manusia dan inovasi di Jepang menjadi salah satu yang terbaik di dunia karena budaya membacanya yang membangkitkan dunia literasi Jepang.

Jepang Sukses Menekan Angka Buta Huruf

Berdasarkan data riset worldatlas, pada tahun 2018 lalu, 10 besar negara dengan angka melek huruf terbesar di dunia menepatkan Jepang di posisi 6 teratas dengan presentase sebesar 99%, mengalahkan China dan Amerika Serikat di peringkat 7 dan 8. Dengan tingginya tingkat melek huruf di negara Jepang, membuat sekiranya hampir seluruh penduduk Jepang dengan usia diatas 15 tahun sudah dapat membaca dan menulis.

Jepang adalah salah satu negara yang berhasil memberantas angka buta huruf terbaik di dunia. Dengan kebiasaan masyarakat Jepang yang hobi membaca tersebut, maka perpustakaan menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi masyarakat Jepang. Dikutip dari riset Statista, Tokyo Metropolitan Central Library sebagai salah satu perpustakaan terbesar di Jepang mencatat sebanyak lebih dari 100 juta buku telah dipinjam pengunjung perpustakaan tersebut setiap tahunnya. Hal ini menjadi peminjaman buku koleksi perpustakaan yang terbanyak di dunia.

Di Jepang, pendidikan diberikan secara merata, tidak memandang kaya ataupun miskin. Setiap siswa berhak mengenyam bangku pendidikan yang baik asal bisa melalui serangkaian tahapan ujian. Bahkan, beberapa universitas terbaik di Jepang juga telah menyediakan fasilitas beasiswa bagi mahasiswanya yang dapat lolos ujian masuk perguruan tinggi tersebut. Pihak perusahaan maupun pemerintah Jepang pun cukup menjamin pekerjaan bagi mereka para lulusan dari universitas tersebut.

4 Sebab Budaya Gemar Membaca di Jepang

Beberapa hal dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai literasi pada kebanyakan masyarakat di negara tertentu. Salah satu faktor rendahnya nilai literasi yaitu minimnya fasilitas membaca bagi masyarakat. Selain itu, kemampuan mengajar seorang guru kepada muridnya berbasis literasi yang masih dirasa kurang juga mempengaruhi faktor kemampuan literasi seseorang.

Di Jepang, budaya membaca sudah menjadi budaya hidup dan rutinitas bagi masyarakat disana. Kebiasaan gemar membaca sudah diajarkan sejak dini oleh orang Jepang. Berikut, adalah beberapa alasan atau faktor mengapa masyarakat Jepang menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya literasi yang bisa terus dipertahankan sampai sekarang.

1. Kegiatan Membaca Buku 10 Menit Sebelum Belajar

Sumber: https://goikuzo.com/

Kebiasaan gemar membaca di Jepang berawal dari aturan khusus membaca pada lembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkatan Sekolah Dasar. Sebelum jam belajar dimulai, biasanya para guru di sekolah-sekolah Jepang akan mewajibkan muridnya untuk membaca buku selama 10 menit. Jenis buku yang dibaca pun bebas dan tidak dibatasi hanya pada buku-buku pelajaran saja. Aturan ini sudah berjalan selama kurang lebih 30 tahun di Jepang. Kebijakan ini dinilai cukup efektif untuk membiasakan masyarakat Jepang agar giat membaca sejak usia dini.

2. Tachiyomi

Sumber: https://newskfm.com/

Masyarakat Jepang telah mengenal budaya kegiatan membaca buku gratisan di toko buku sambil berdiri yang bernama Tachiyomi. Toko-toko buku di Jepang banyak yang menyediakan buku dengan kemasan yang sudah terbuka, khusus ditujukan bagi orang-orang yang hendak membaca buku itu secara gratis. Pihak penjual pun membiarkan begitu saja kegiatan tachiyomi tersebut. Mereka tidak sedikitpun merasa dirugikan dan malah menganggap bahwa semakin ramai orang-orang membaca buku di tokonya, semakin besar pula kemungkinan orang-orang tersebut akan kembali keesokan harinya dan membeli buku bacaan di toko buku itu.

3. Kebiasaan Membaca di Ruang Publik

Masyarakat Jepang memiliki kebiasaan membaca buku tidak hanya di sekolah, perpustakaan, dan toko buku saja. Namun, ruang publik pun seringkali dimanfaatkan sebagai ruang baca bagi orang Jepang. Tak jarang kita menemui orang Jepang sedang asyik membaca buku di tempat-tempat umum seperti di dalam kendaraan umum. Selain itu, kegiatan gemar membaca masyarakat Jepang juga didukung dengan adanya fasilitas-fasilitas khusus seperti tersedianya buku-buku bacaan pada ruang tunggu di klinik, hotel, restoran dan tempat-tempat umum lainnya.

4. Toko Buku dan Perpustakaan yang Bertebaran di Jepang

Menurut data yang dilansir dari bunkanews, jumlah toko buku di Jepang sama banyaknya seperti jumlah toko buku di negara Amerika Serikat, yang notabenenya memiliki jumlah penduduk dua kali lebih banyak dan luas wilayah yang dua puluh enam kali lebih luas dari Negeri Sakura, Jepang. Toko-toko buku di Jepang banyak bertebaran dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Tidak hanya menjual buku-buku terbaru, di Jepang juga banyak terdapat toko buku yang menjual buku-buku bekas yang sudah tidak diterbitkan lagi. Bahkan, jumlahnya hampir setengah dari jumlah toko yang menjual buku-buku baru di Jepang. Beberapa toko buku di Jepang pun berani membuka tokonya hingga larut malam melebihi jam buka supermarket pada umumnya.

Selain toko buku, keberadaan perpustakaan juga tersebar luas hingga ke wilayah pedesaan di Jepang. Perpustakaan daerah itu pun juga memiliki petugas yang menjaga dan mengurus perpustakaan dengan fasilitas yang lengkap dan nyaman bagi para pengunjung yang hendak membaca buku.

Atas beberapa hal diatas, budaya membaca bagi masyarakat Jepang dapat terus dilestarikan secara baik hingga kini. Sehingga, Jepang bisa terus melakukan inovasi di bidang ilmu pengetahun, salah satunya berkat tingginya minat baca masyarakatnya yang membuat dunia literasi Jepang beberapa langkah lebih maju dibanding negara-negara besar lainnya.

Nah, apakah Anda tertarik untuk berkunjung ke negara Jepang yang tingkat melek huruf dan intelektualitas masyarakatnya yang tinggi? Pergi ke Negeri Sakura tidaklah cukup dengan hanya mempersiapkan materi fisik berupa uang dan pakaian saja. Ada baiknya, Anda juga membutuhkan keahlian dalam bercakap-cakap dengan Bahasa Jepang. Seperti kita ketahui, mayoritas masyarakat di negara Jepang kurang fasih berbahasa asing seperti Bahasa Inggris. Maka, mau tidak mau kita yang hendak mengadu nasib atau hanya sekedar berkunjung kesana harus mempelajari Bahasa Jepang, baik untuk kondisi formal maupun bahasa yang dipakai sehari-hari disana.

Atas dasar itulah, Tensai Nihongo Bunka Gakuin hadir sebagai LKP Bahasa Jepang terdepan dan terpercaya nomor 1 di Karawang. Kami telah berkiprah selama lebih dari 8 tahun melayani masyarakat akan kebutuhan jasa kursus dan pelatihan Bahasa Jepang.

Profil Singkat Jasa Penerjemah Tensai Nihongo Bunka Gakuin

Bagi Anda yang membutuhkan layanan jasa penerjemah Bahasa Jepang-Indonesia dalam sektor industri logistik, Tensai Karawang menyediakan jasa cepat penerjemah Bahasa Indonesia-Jepang yang terpercaya dan bersertifikasi. Lokasi yang mudah dijangkau dan dekat dengan perindustrian di Karawang menjadikan salah satu kelebihan kami. Kantor pusat Tensai sangat mudah diakses dari pusat kota Karawang. Hanya perlu waktu tempuh 15 menit dari Stasiun Karawang, 10 menit dari Gerbang Tol Karawang Barat.

Tensai Karawang telah bekerjasama dengan lebih dari 80 perusahaan di wilayah Karawang dan sekitarnya. Bagi kalian yang penasaran dan butuh jasa cepat penerjemah dari Tensai bisa datang langsung ke kantor pusat Tensai Nihongo Bunka Gakuin di Ruko Emporium, Jl. Galuh Mas Raya No.5, Sukaharja, Kec. Telukjambe Timur, Kab. Karawang, Jawa Barat. Atau bisa juga dengan menghubungi nomor kontak pelanggan, serta melalui beberapa akun media sosial pribadi kami untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

  • Facebook : Tensai Nihongo Bunka Gakuin
  • Instagram : kursusjepangkarawang
  • YouTube : Tensai Indonesia | Kursus Bahasa Jepang

Referensi

Artikel di atas dibuat dengan bersumberkan:

Leave a Reply

Butuh Penawaran / Info Lebih Lanjut?