Industri Manga dan Anime di Jepang
Industri Manga dan Anime di Jepang: Sejarah dan Perkembangannya
February 6, 2020
Sumber: https://www.wego.co.id/
Tradisi Umat Islam di Jepang Antusias Sambut Bulan Suci Ramadhan
March 5, 2020
Karuta

Sumber: https://commons.wikimedia.org/

Permainan tradisional perlahan mulai hilang tergerus perkembangan teknologi gadget. Kini, orang lebih senang bermain game-game modern di gadgetnya masing-masing. Sehingga, ragam permainan tradisional pun hampir jarang ditemui lagi dan beberapa bahkan terancam punah. Di Indonesia, banyak dikenal berbagai macam permainan tradisional yang hits pada masanya. Sebut saja, beberapa contohnya seperti egrang, congklak, gatrik, gasingan, dan pletokan. Untuk para generasi tahun 90 sampai 2000-an pasti sudah tidak asing lagi dengan beberapa nama permainan tradisional diatas, yang membawa kembali kita bernostalgia. Tidak hanya di Indonesia, Jepang sebagai negara yang juga terkenal dengan ragam kebudayaannya memiliki permainan tradisional yang beberapa masih terus dijaga dan dilestarikan sampai sekarang. Terdapat salah satu permainan tradisional yang masih populer di Jepang bernama Karuta.

Karuta merupakan permainan yang menggunakan satu set kartu dengan yomifuda (kartu yang dibaca) dan torifuda (kartu yang diambil). Isi bacaan dalam kartu yomifuda sendiri adalah lantunan puisi bernama Hyakunin Isshu yang merupakan koleksi 100 puisi pendek khas Jepang. Aturan bermain karuta sendiri terbilang sederhana, kita hanya diharuskan memiliki daya ingat yang kuat agar bisa saling mencocokkan gambar atau tulisan dalam kartu yang ada dihadapan kita, dengan kartu yang hendak dibacakan oleh pembaca puisi. Kemudian, pemain yang berhasil menebak kartu yang cocok dengan bacaan puisi berhak menumpuk kartu tersebut menjadi miliknya. Pemenang permainan ini ditentukan oleh kartu-kartu yang lebih dulu habis di dalam areanya.

Sumber: https://www.reddit.com/

Belakangan, nama permainan kartu tradisional ini kembali populer di kalangan masyarakat Jepang bersamaan dengan dirilisnya tayangan anime yang juga diadaptasi menjadi sebuah film berjudul Chihayafuru. Film anime yang pertama kali tayang tahun 2011 ini mengangkat permainan karuta sebagai inti dari tema dan jalan cerita didalamnya. Permainan karuta disini bersifat kompetitif, dimainkan secara lebih serius dengan para pemain yang tidak hanya diharuskan menghafal lantunan puisi-puisi, namun juga perlu melatih daya pendengaran, penglihatan, konsentrasi, serta stamina yang terjaga sepanjang jalannya pertandingan.

Sejatinya, karuta tidak hanya seputar permainan mencocokkan puisi secara serius. Namun, bisa juga dipakai sebagai media pembelajaran huruf-huruf dan suku kata Bahasa Jepang bagi anak-anak. Karuta memiliki beragam jenis tema kartu yang bisa dimainkan. Khusus bagi kalangan pemula dan anak-anak, Iroha Karuta menjadi jenis kartu yang paling cocok untuk dimainkan pertama kali. Terdapat sebanyak 47 suku kata menggunakan huruf Hiragana yang ditambahkan ‘Kyo’ agar jumlahnya genap menjadi 48 kartu. Sehingga, Iroha Karuta cukup dibagi rata untuk para pemain yang berjumlah genap. Dibandingkan jenis karuta biasa, Iroha Karuta memiliki tema desain gambar-gambar yang lebih berwarna dan menarik perhatian.

Sejarah dan Perkembangan Karuta

Pada awal kemunculannya, karuta hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan di Jepang. Hal tersebut lantas menjadikan karuta sebagai sebuah barang mewah dengan harga yang sangat mahal pada masanya. Di zaman Heian, para bangsawan dan aristokrat seringkali mengisi waktu luangnya dengan menulis puisi atau memainkan permainan sederhana dari sebuah cangkang kerang yang diberi sebuah tulisan pada bagian dalamnya. Sementara, bagian permukaan cangkang diberi gambar agar lebih menarik. Kemudian, kerang-kerang tersebut ditutup kebawah dan diacak. Masing-masing pemain harus mencari 2 kerang dengan tulisan yang saling cocok sebanyak mungkin dalam waktu yang telah ditentukan.

Pada zaman Sengoku, para kaum pedagang Bangsa Portugis di Jepang mulai memperkenalkan sebuah permainan kartu khas mereka bernama Carta atau biasa kita kenal dengan kartu remi. Para bangsawan Jepang pun kemudian memodifikasi Carta dengan permainan mencocokkan kulit kerang yang biasa mereka mainkan. Alhasil, terciptalah sebuah permainan kartu yang berisi puisi Hyakunin Isshu khas Jepang bernama Karuta dengan harga mahal yang hanya bisa dimainkan oleh kaum bangsawan istana pada masanya. Baru pada zaman Edo, karuta mulai populer menjadi sebuah permainan kartu yang bisa dimainkan oleh rakyat biasa. Dengan kreatifitas dan kemajuan teknik para pengrajin percetakan cukil kayu pada masa itu, membuat harga karuta menjadi lebih terjangkau bagi seluruh kalangan di Jepang.

Kini, karuta juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran huruf-huruf Jepang bagi anak-anak disana. Metode seperti ini dianggap lebih efektif dan menyenangkan karna menggunakan jenis kartu Iroha Karuta dengan desain yang lebih disukai anak-anak karena gambar-gambar berwarnanya. Tema pada Iroha Karuta bermacam-macam, mulai dari sejarah, bahasa, geografi, makanan, sampai kartun populer. Dibanding Uta Karuta (kartu puisi) yang biasa dipakai pada turnamen karuta yang lebih serius, Iroha Karuta dinilai lebih cocok bagi pemula yang tertarik mempelajari cara bermain permainan kartu tradisional khas Negeri Sakura ini.

Aturan & Cara Bermain Karuta

Permainan kartu ini dapat dimainkan baik secara individu satu lawan satu, maupun regu tim yang terdiri dari 3 atau 5 orang pada masing-masing timnya. Selain pemain kartu, satu orang dapat berperan sebagai Dokushu (pembaca puisi) sekaligus wasit. Seperti permainan kartu pada umumnya, mula-mula 100 lembar karuta dikocok dalam posisi terbalik untuk kemudian masing-masing pemain mengambil sebanyak 25 kartu secara acak. Sebanyak 50 sisa kartu tidak digunakan dalam permainan dinamakan “Kara-fuda” (kartu mati). Setelah itu, kartu-kartu tersebut ditaruh 3 baris secara horizontal diatas area Tatami (tikar tradisional Jepang) milik masing-masing pemain dan disusun secara bebas. Kartu-kartu yang sudah disusun ini disebut “Mochi-fuda”. Sedangkan, kartu yang disusun sendiri di area milik kita disebut “Ji-jin”, dan kartu di area lawan disebut “Teki-jin”.

Sebelum bermain, para pemain akan diberi waktu 15 menit untuk menghafal posisi dari kartu-kartu yang telah disusun di hadapannya tadi. Kemudian, Dokushu mulai membaca pembukaan puisi yang biasanya dinamakan Joka (puisi pembuka). Nada pembukaan puisi tersebut biasanya berbunyi, “Naniwa-zu ni Sakuya Kono Hana Fuyu-gomori, Ima wo haru-be to Sakuya kono hana,” yang artinya “di teluk Naniwa sekarang bunga bermekaran di musim dingin, musim semi telah datang, bunga pun bermekaran”.

Selanjutnya, akan dibacakan puisi-puisi yang harus secepatnya ditebak dan dicocokkan dengan kartu yang ada di hadapan masing-masing pemain. Karena tidak semua kartu dipakai, maka ada beberapa kalimat puisi yang tidak ada pasangannya. Apabila pemain menyentuh kartu yang salah atau tidak ada pasangannya maka akan terkena pinalti (Otetsuki) dan pemain lawan pun berhak mengirim salah satu kartu di areanya yang mempercepatnya untuk bisa menang.

Kyogi Karuta, Turnamen Bergengsi Bagi Queen dan Master Karuta

Pada model turnamen solo atau non-regu, permainan karuta memiliki beberapa tingkatan layaknya turnamen-turnamen olahraga pada umumnya. Tingkatan terendah dalam turnamen karuta adalah tingkat C dan yang tertinggi adalah tingkat A. Untuk bisa naik kelas, pemain karuta diharuskan mengikuti kompetisi kenaikan tingkat karuta mulai dari yang terendah secara bertahap. Tingkat tertinggi pemain karuta adalah gelar Meijin/Master dan Queen sebagai penghargaan pemain karuta terbaik di Jepang setiap tahunnya.

Pertama kali diadakan pada abad ke-19, turnamen karuta memiliki peraturan yang berbeda-beda sesuai dengan daerah tempat digelarnya kompetisi tersebut. Baru pada abad ke-20, mulai digelar turnamen karuta tingkat nasional yang biasanya diadakan setiap bulan Januari di Kuil Omi Jingu, di daerah Shiga. Perhelatan turnamen karuta berskala nasional tersebut bertujuan untuk menentukan gelar Meijin/Master dan Queen. Kedua gelar tersebut merupakan penghargaan bergengsi di tingkat tertinggi seorang pemain karuta di Jepang. Meijin/Master adalah gelar pemain karuta terbaik untuk laki-laki, sedangkan Queen untuk perempuan.

Untuk mendapatkan kedua gelar terbaik bagi pemain karuta tersebut, seorang pemain harus memainkan pertandingan resmi satu lawan satu (best-of-five untuk Meijin/Master, best-of-three untuk Queen). Kemudian, pemain akan dinyatakan menang jika mendapatkan tiga angka kemenangan dalam lima babak pertandingan untuk mendapatkan gelar Meijin/Master, dan dua kemenangan di tiga babak pertandingan untuk gelar Queen.

Sumber: https://www.sankei.com/

Turnamen Meijin/Master digelar untuk pertama kali pada tahun 1955 yang dimenangkan oleh Ichiro Masaki yang juga dikenal dengan julukan ‘Eternal Master’ karena mampu mempertahankan gelar tersebut hingga sepuluh tahun lamanya. Sedangkan, dua tahun setelahnya, tepatnya tahun 1957, untuk pertama kalinya digelar turnamen Queen yang saat itu dimenangkan oleh Chieko Amano. Turnamen paling bergengsi di kelas permainan karuta ini hanya dapat diikuti oleh pemain-pemain tingkat A. Dari sekian ribu pemain nantinya hanya aka nada satu orang yang melaju ke babak final untuk menantang Meijin/Master dan Queen sebelumnya. Pada babak final turnamen ini, biasanya kedua pemain diwajibkan memakai baju tradisional Jepang yang biasa disebut Hakama.

Selain, turnamen karuta yang menentukan gelar Meijin/Master dan Queen, terdapat juga turnamen karuta tingkat nasional antar SMA di Jepang yang biasanya diadakan setiap bulan Juli. Sejak tahun 2012 lalu, belakangan juga mulai diadakan turnamen karuta berskala internasional di Jepang. Tidak hanya diikuti oleh pemain asal Jepang saja, namun juga para pemain dari seluruh belahan dunia diluar Jepang akan bersaing di kompetisi ini.

Ternyata, permainan tradisional Jepang yang bernama karuta ini terlihat sangat menarik untuk bisa kita mainkan. Selain mendapat hiburan karena memainkannya, kita juga sekaligus bisa mempelajari berbagai suku kata dalam Bahasa Jepang yang dikemas secara lebih menarik untuk dihafalkan dalam balutan 100 puisi pendek di permainan karuta ini.

Nah, apakah Anda tertarik untuk berkunjung ke negara Jepang untuk bisa menyaksikan langsung persaingan panas dalam perebutan gelar Meijin/Master dan Queen karuta tersebut? Pergi ke Negeri Sakura tidaklah cukup dengan hanya mempersiapkan materi fisik berupa uang dan pakaian saja. Ada baiknya, Anda juga membutuhkan keahlian dalam bercakap-cakap dengan Bahasa Jepang. Seperti kita ketahui, mayoritas masyarakat di negara Jepang kurang fasih berbahasa asing seperti Bahasa Inggris. Maka, mau tidak mau kita yang hendak mengadu nasib atau hanya sekedar berkunjung kesana harus mempelajari Bahasa Jepang, baik untuk kondisi formal maupun bahasa yang dipakai sehari-hari disana.

Atas dasar itulah, Tensai Nihongo Bunka Gakuin hadir sebagai LKP Bahasa Jepang terdepan dan terpercaya nomor 1 di Karawang, bahkan Jawa Barat. Kami telah berkiprah selama lebih dari 8 tahun melayani masyarakat akan kebutuhan jasa kursus dan pelatihan Bahasa Jepang.

Bagi Anda yang membutuhkan layanan jasa penerjemah Bahasa Jepang-Indonesia dalam sektor industri logistik, Tensai Karawang menyediakan jasa cepat penerjemah Bahasa Indonesia-Jepang yang terpercaya dan bersertifikasi. Lokasi yang mudah dijangkau dan dekat dengan perindustrian di Karawang menjadikan salah satu kelebihan kami. Kantor pusat Tensai sangat mudah diakses dari pusat kota Karawang. Hanya perlu waktu tempuh 15 menit dari Stasiun Karawang, 10 menit dari Gerbang Tol Karawang Barat.

Tensai Karawang juga telah bekerjasama dengan lebih dari 80 perusahaan di wilayah Karawang dan sekitarnya. Bagi kalian yang penasaran dan butuh jasa cepat penerjemah dari Tensai bisa datang langsung ke kantor pusat Tensai Nihongo Bunka Gakuin di Ruko Emporium, Jl. Galuh Mas Raya No.5, Sukaharja, Kec. Telukjambe Timur, Kab. Karawang, Jawa Barat. Atau bisa juga dengan menghubungi nomor kontak pelanggan, serta melalui beberapa akun media sosial pribadi kami untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

  • Facebook : Tensai Nihongo Bunka Gakuin
  • Instagram : kursusjepangkarawang
  • YouTube : Tensai Indonesia | Kursus Bahasa Jepang

Referensi

Artikel di atas dibuat dengan bersumberkan:

Leave a Reply

Butuh Penawaran / Info Lebih Lanjut?