Go to Top

Inilah Sejarah Kecantikan Jepang Bermula

Inilah sejarah kecantikan Jepang bermula. Orang Jepang terutama kaum hawa banyak yang terlihat cantik, putih bersih, dan modist. Tahukah Anda kapan standar kerupawanan di Jepang mulai dibentuk dan mulai dijadikan tren? Ingin belajar banyak tentang Jepang? Tensai Karawang mengajak Anda bergabung dengan berbagai event dan program edukasinya. Mulai dari kursus bahasa Jepang, berbagai info magang dan lowongan, karnaval, dan jasa interpretasi & translasi, Tensai adalah pusat kebudayaan yang lengkap di Karawang.

Meskipun tren kecantikan telah berubah di Jepang, penampilan kecantikan modern para pemuja fashion di Jepang sangat berakar dan mempunyai sejarahnya tersendiri. Sejarah pergolakan Kojiki (古 事 記, “Catatan hal-hal Kuno)”) dan Nihon shoki (日本 書 紀, buku tertua kedua dari klasik Jepang) mengungkapkan, bahwa bahkan di zaman kuno, tren kecantikan tertentu seperti mengecat wajah dengan pigmen merah memang sudah ada.

Seiring dengan aspek budaya lainnya yang masuk dari Cina dan Korea, seperti beragam bentuk rias seperti warna pipi dan bedak wajah mulai dipergunakan di Jepang. Bedak muka Jepang pertama diproduksi oleh seorang pendeta Budha, bedak itu sukses memikat hati Permaisuri Jepang sehingga kemudian ditetapkan sebagai tren hingga menjadi tren kosmetik Jepang yang mendunia.

Selama periode Heian (平安 時代, 794-1185), produk-produk kecantikan Jepang melepaskan diri dari pengaruh model-model Cina dan menciptakan estetika tersendiri, seperti rambut panjang lurus, wajah dengan bedak putih dan alis dicat ulang. Terlepas dari transformasi ini, sebagian besar make-up hanya tersedia untuk kaum elit tertentu saja.

Sekitar waktu yang sama, standar kecantikan yang sangat tidak biasa menginvasi Jepang, seperti menghitamkan gigi, ohaguro (お 歯 黒): Gigi, yang sehitam pekat, dianggap cantik dan tetap populer sebagai standard kecantikan sampai abad ke 19.

Banyak orang Barat yang mengunjungi Jepang menggambarkan ohaguro sebagai kebiasaan Jepang yang menjijikkan yang sengaja membuat wanita Jepang tampak buruk. Namun begitu, banyak gadis Jepang yang diizinkan menjalani kebebasan sosial dan kedewasaan dalam jumlah besar, sehingga ritual sosial ini jauh lebih mungkin sebagai perayaan tekad wanita dewasa.

Pada awal-awal masa Edo (江 戸 時代, 1600-1868), Jepang mulai mengembangkan dan berfokus pada hal-hal mendetail seputar etiket, termasuk pengajaran tentang cara yang tepat penggunaan kosmetik.

Selama periode ini, kosmetik umumnya berpusat pada tiga palet warna dasar: merah (gincu bibir, cat kuku), putih (bedak wajah: oshiroi お 白 い), dan hitam (penghitam gigi, pensil alis).

Bedak muka putih digunakan untuk membuat kulit menjadi berwrana putih pucat, secara artistik seringkali membuat kontras terhadap warna alami kulit di sekitarnya yang dengan perlahan menimbulkan kontur tepi pada di leher bawah dan di bawah garis rambut. Sementara itu bibir wanita Jepang pada masa itu seringkali dic at dengan dasar putih dan dibuat lebih kecil dan sedikit lebih tinggi dari bentuk bibir alami. Selama era Edo ini wanita Jepang sangat menyukai penggunaan bedak wajah untuk mendatangkan efek kulit sempurna. Itulah standar wanita cantik Jepang saat itu populer.

Kemudian tren di akhir era Edo penggunaan lipstik  semakin populer. Lipstik pada saat itu dibuat dari pigmen yang dihasilkan dari bunga segar. Dan harganya begitu mahal, bahkan konon nilainya sama dengan emas.

Dan di awal-awal abad ke-20, standar kecantikan di Jepang mulai bergeser. Wantia Jepang kemudian mulai menyukai penggunaan make praktis yang cepat tapi nyaman. Hal ini karena kemajuan emansipasi wanita Jepang di masyarakat terutama kiprah mereka di tempat kerja

Duniai barat kemudian mempengaruhi Jepang semenjak 1920 sehingga emulsi kosmetik dan variasi produk perawatan kulit mulai muncul di pasaran. Bedak dan lipstik wajah mulai dijual dalam ragam warna yang lebih luas selain warna putih dan merah tradisional. Terutama setelah Perang Dunia II, estetika Jepang menjadi sangat dipengaruhi oleh media massa Barat, terutama majalah dan film Amerika.

Kini, Jepang menjadi pemimpin pasar dunia untuk produk kosmetik. Dengan perkiraan nilai US $ 13 Miliar per tahun, Jepang akan lebih jauh lagi dapat membangun dirinya sendiri secara stabil dengan berbagai inovasi kecantikan.

Tampilan bedak putih yang tebal pada zaman Edo tidak berlaku hari ini. Sebagian besar menjadi warisan budaya yang seringkali dipertahankan dalam kontes budaya di panggung. Meskipun demikian, tetap saja kulit putih yang indah masih menjadi ideal kecantikan yang penting bagi banyak orang Jepang.

Hingga kini Jepang masih terus membangun kemajuan dalam industri kecantikan tidak saja sekedar berinoasi dalam teknik canggih menghilangkan parut pada wajah. Tentu cita-cita Jepang ini berasal dari semangat yang telah ada semenjak dulu kala sebelum dunia Barat menyentuh Jepang.

Referensi

  1. https://web.archive.org
  2. http://data.ukiyo-e.org/
,