Sakoku Hingga Restorasi Meiji, Perjalanan Titik Balik Kebangkitan Jepang!

Budaya Tertib Lalu Lintas di Jepang
Patut Ditiru! Budaya Tertib Lalu Lintas di Jepang
March 19, 2020
Titik Balik Kebangkitan Jepang

Jepang merupakan salah satu negara yang diakui memiliki kemajuan teknologi di segala bidangnya yang mampu bersaing dan tak kalah hebat dengan negara-negara barat seperti Jerman dan Amerika Serikat. Namun, seperti yang kita ketahui, jauh sebelum masa sekarang, Jepang sempat menutup diri dari dunia luar selama beberapa abad lamanya. Hingga pertengahan abad ke-19, negara Jepang masih menganut sistem politik monarki feodal yang menerapkan kebijakan untuk sangat menutup diri dari dunia luar.

Titik Balik Kebangkitan Jepang

Salah satu yang diyakini menjadi awal mula Jepang menjadi sangat tertutup dari budaya luar adalah letak geografis Negeri Sakura yang berbentuk kepulauan yang terlihat memisahkan diri atau terisolasi dari dataran utama Benua Asia. Selain itu, Jepang juga dipisahkan dengan negara-negara lain diluar Benua Asia, oleh perbatasan lautan yang sangat luas.

Para ahli sejarah pun bahkan tak ragu menyebut Jepang sebagai negara yang terabaikan dari sejarah peradaban dunia karena masa isolasi tersebut.

Para pemimpin kaisar yang memerintah Jepang pada masa periode sekitar tahun 660 SM diwarisi turun temurun sesuai klan dari berbagai generasi keluarga kekaisaran. Mereka secara penyebutan menamai dirinya sebagai ‘Tenshi’ (putra langit). Kondisi pengasingan diri kehidupan masyarakat Jepang dari dunia luar juga merupakan hal yang memang diatur oleh setiap kaisar yang berkuasa di Jepang hingga abad ke-19.

Sesuai maklumat resmi yang dirilis oleh pemerintah Jepang tahun 1636, bahwa masyarakat Jepang dilarang untuk bepergian keluar dari wilayah Jepang dengan alasan apapun. Puncaknya, pada tahun 1639, pemerintahan militer Tokugawa menerapkan politik isolasi (Sakoku) dengan membatasi segala bentuk pengaruh asing yang masuk ke negara Jepang dalam waktu yang cukup lama.

Bahkan, saking terisolasinya, orang-orang Jepang yang melihat kapal-kapal uap USS Powhatan yang berlabuh di Pelabuhan Edo, Tokyo pada tahun 1853 pun menganggap bahwa kapal-kapal tersebut merupakan jelmaan ular-ular naga berukuran raksasa yang sedang marah dan menghembuskan nafasnya berbentuk kepulan asap tebal. Mereka belum mengetahui bahwa saat itu kapal uap telah diciptakan dan dipergunakan untuk berlayar.

Begitu terkejut dan terkesimanya orang-orang Jepang, saat melihat armada kapal yang dipimpin oleh seorang perwira Angkatan Laut Amerika, Komodor Matthew C. Perry. Armada kapal yang dikenal dengan istilah Armada Kapal Hitam (Kurofune) itu juga dilengkapi dengan senjata-senjata berukuran besar.

Sakoku (Menutup Diri) Selama 2 Abad Lamanya!

Titik Balik Kebangkitan Jepang

Sumber: https://storymaps.arcgis.com/

Sakoku (鎖国, “negara tertutup”) merupakan kebijakan luar negeri yang dikeluarkan pemerintah militer Jepang, yang menerapkan sistem monarki feodal dibawah kepemimpinan Shogun Tokugawa Iemitsu (徳川 家光) yang terus diterapkan pada periode tahun 1633-1853. Kebijakan yang berlangsung hingga lebih dari 2 abad lamanya ini mengatur tentang hubungan diplomatik hingga hubungan perdagangan Jepang dengan negara lain diluar Jepang yang dibatasi dengan sangat ketat. Hal ini dilatarbelakangi oleh anggapan para penguasa Jepang terhadap perilaku bangsa Belanda dan Portugis yang menimbulkan kisruh di Jepang.

Selain tujuang perdagangan, beberapa bangsa-bangsa dari Benua Eropa seperti bangsa Portugis yang datang ke Jepang juga memiliki misi lain yaitu menyebarkan ajaran Agama Kristen yang berujung pada terjadinya peristiwa Pemberontakan Shimabara (島原の乱, Shimabara no ran) yang berlangsung pada 17 Desember 1637 hingga 15 April 1638. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pendukung bagi masyarakat Jepang terhadap penerapan kebijakan isolasi Jepang yang diusung Shogun Tokugawa Iemitsu pada saat itu.

Selama penegadopsian kebijakan sakoku, tepatnya di masa abad ke-17 hingga abad ke-19 tersebut, sangat sedikit warga negara asing yang diizinkan masuk dan melakukan aktivitas perdagangan di Negeri Sakura.

Bahkan, bagi masyarakat Jepang sendiri, siapapun yang nekat pergi meninggalkan negara Jepang akan diancam hukuman mati. Hingga pada tahun 1853, ketika kedatangan Komodor Perry yang akhirnya memaksa Jepang untuk kembali membuka jalur perdagangannya dengan dunia Barat untuk pertama kalinya setelah masa pengisolasian. Jepang yang mulai membuka diri itupun memicu perkembangan perdagangan luar negeri dan westernisasi secara pesat.

Titik Balik Kebangkitan Jepang

Sumber: https://tabi-mag.jp/

Kini, periode sakoku atau masa pengisolasian Jepang yang menutup diri dari pengaruh Barat pun telah menjadi bagian dari sejarah Jepang. Peristiwa bersejarah inipun diabadikan dalam sebuah bangunan rumah The Hirado Dutch yang didirikan oleh Perusahaan India Timur Belanda sejak tahun 1609.

Rumah Perdagangan Belanda ini merupakan bangunan gudang yang diyakini menjadi bangunan Barat pertama di Jepang yang hingga kini tetap terawat dan menjadi saksi bisu sejarah kebijakan isolasi saat periode sakoku yang pernah berlaku di Negeri Sakura tersebut.

Restorasi Meiji, Titik Balik Kebangkitan Jepang yang Mulai Membuka Diri!

Titik Balik Kebangkitan Jepang

Sumber: https://meijirestorationart.weebly.com/

Angin perubahan kian dirasakan Jepang, setelah Kapten Angkatan Laut Amerika, Matthew Calbrath Perry melabuhkan sejumlah kapal perang menuju Teluk Edo pada 8 Juli 1853. Bersamaan dengan itu, juga terdapat sebuah pesan dari Presiden Millard Filmore yang ditujukan bagi Jepang. Pesan tersebut berisi ancaman ultimatum negara Amerika Serikat (AS) terhadap Jepang jika mereka masih tidak mau membuka jalur perdagangan dengan negaranya.

Pemerintah AS memberi waktu selama satu tahun lamanya kepada Jepang untuk mempertimbangkan tawaran tersebut, jika nantinya Jepang menolak, maka armada kapal perang itu akan menggempur seluruh wilayah Jepang.

Akibat perjanjian yang dirasa tidak adil bagi Jepang tersebut, Keshogunan Tokugawa pun mendapat banyak tantangan dari berbagai kalangan di dalam negeri. Akhirnya terbentuklah sebuah gerakan sosial radikal anti-Barat di Jepang yang punya slogan “sonno joi” (尊皇攘夷, “hormati kaisar, usir orang barbar”). Gerakan ini bertujuan untuk menentang kebijakan Keshogunan Tokugawa. Sonno joi kemudian tersebar luas di daerah Satsuma, ujung Selatan Kyushu dan Chosu, ujung Barat Honshu.

Kaisar Komei yang pada saat itu menjabat pun menyetujui sentimen anti-Barat tersebut dan mulai aktif berperan dalam berbagai urusan negara. Kaisar memanfaatkan situasi untuk dapat lepas dari keshogunan dengan melayangkan kritik keras terhadap berbagai perjanjian yang dibuat Jepang dengan negara Barat, serta turut ikut campur dalam urusan suksesi shogun.

Kemudian pada 31 Maret 1854, waktu yang ditunggu pun akhirnya datang, dimana pasukan AS kembali ke Jepang untuk menagih perjanjian yang sebelumnya pernah mereka tawarkan. Jepang akhirnya memutuskan untuk menyerah dengan menyetujui perjanjian tersebut, yang kemudian ditandatanganinya Perjanjian Kanagawa sebagai pertanda awal bergabungnya Jepang dengan komunitas dunia.

Menjelang tahun 1858, AS, Prancis, dan Inggris mulai mendirikan pangkalan-pangkalan militernya di Jepang. Namun, hal ini cukup menimbulkan keresahan bagi beberapa kelompok masyarakat Jepang yang masih tidak setuju dengan kehadiran bangsa asing di tanah airnya.

Titik Balik Kebangkitan Jepang

Sumber: https://id.wikipedia.org/

Pada 6 April 1868, Kaisar Mutsuhito, putra kedua dari Kaisar Komei yang juga dikenal dengan nama Meiji, membuat sebuah peraturan yang berisi larangan bagi semua aktivitas anti-Barat diseluruh wilayah Jepang.

Ia juga turut berperan dalam memprakarsai modernisasi Jepang dengan cara mengimpor mesin-mesin dari berbagai negara di Benua Eropa yang juga dikenal dengan masa Revolusi Industri di Jepang. Tahun 1868 juga menandai runtuhnya kekuasaan Dinasti Tokugawa yang telah menguasai Jepang selama lebih dari 2 abad lamanya.

Lambat laun, Jepang pun mulai memasuki era baru dan membuka diri terhadap dunia luar. Kekuasaan yang sebelumnya diatur oleh pemerintahan militer pun dikembalikan kepada kaisar. Walaupun Kaisar berlaku sebagai kepala negara, namun urusan pemerintahan dan politik dijalankan oleh kelompok intelektual Jepang.

Program reformasi besar-besaran pun segera dilakukan Negeri Matahari Terbit tersebut dengan bergaungnya semboyan “Perkaya Negara, Perkuat Angkatan Bersenjata” (富國強兵, Fukoku-kyohei). Reformasi yang dikenal dengan Restorasi Meiji itupun dijalankan dengan tujuan utama untuk menciptakan bangsa Jepang yang mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa Barat.

Titik Balik Kebangkitan Jepang

Sumber: https://www.harashobo.com/

Untuk mengejar ketertinggalannya selama masa menutup diri (sakoku), Jepang mendatangkan lebih dari 3.000 tenaga ahli dari Barat untuk mengajarkan seputar pembelajaran bahasa asing, sains modern, serta ilmu teknologi. Selain itu, pemerintah Jepang di era Restorasi Meiji juga mengirimkan sejumlah ribuan siswa sekolah Jepang keluar negeri untuk dapat belajar disana.

Roda perekonomian Negeri Sakura itupun digerakkan dengan melakukan impor bahan mentah dan kemudian mengekspor produknya yang telah jadi ke luar negeri. Restorasi Meiji membuat Jepang menjadi negara pertama yang mengusung industrialisasi di Benua Asia. Kondisi pertumbuhan ekonomi ini terus menjadi fokus utama Jepang hingga masa berakhirnya Restorasi Meiji pada 1912, dan berlanjut pada masa Taisho (1912-1926) yang kemudian dipertahankan sampai masa-masa setelahnya.

Kini, kualitas masyarakat Jepang terus memukau dunia Internasional. Hal itu dibuktikan dengan mereka yang berhasil terus mengembangkan teknologi yang setara atau bahkan melampaui produk-produk Eropa dan Amerika Serikat. Era Restorasi Meiji pun menjadi awal titik balik kebangkitan Jepang yang hanya membutuhkan waktu seperempat abad untuk dapat kembali bersaing dengan negara-negara Barat yang telah lebih dulu maju.

Nah, bagi kalian yang tertarik untuk tinggal atau berkunjung ke Jepang yang kaya akan perjalanan sejarah dan budayanya tersebut, tidak cukup hanya dengan mempersiapkan segala perbekalan berbentuk fisik ataupun informasi umum mengenai Jepang saja. Namun, baiknya juga dilengkapi dengan kemampuan berbahasa Jepang yang fasih dan lancar.

Rutin berlatih adalah salah satu cara untuk dapat terus mengasah kemampuan Bahasa Jepang yang telah kita kuasai dan dipraktekkan langsung dalam obrolan berbahasa Jepang. Atas dasar itulah, Tensai Nihongo Bunka Gakuin hadir sebagai LKP Bahasa Jepang terdepan dan terpercaya nomor 1 di Karawang, bahkan Jawa Barat. Kami siap membantu Anda mewujudkan impian agar bisa fasih mengucapkan kalimat-kalimat dalam Bahasa Jepang.

Referensi

Artikel di atas dibuat dengan bersumberkan:

Leave a Reply

Butuh Penawaran / Info Lebih Lanjut?