Go to Top

Masalah Kependudukan Jepang: Kebijakan Imigran Terbaru

Masalah Kependudukan Jepang

 Kesenjangan usia produktif dengan yang tidak produktif di Jepang benar-benar meningkat  sehingga membutuhkan bantuan tenaga dari luar Jepang. Masalah kependudukan Jepang inilah, kami akan mengangkat pembahasan yang ada kaitannya dengan kebijakan baru yang akan disahkan pemerintah Jepang di bulan April 2019 ini.

Tertarik untuk berkarir si Jepang? Tensai Karawang sebagai lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan pemerintah Jepang dalam menyelenggarakan kursus bahasa dan jasa penerjemah Jepang membuka banyak peluang dan kesempatan. Gabung yuk di Tensai Karawang. Banyak info lowker dan pemagangan di Jepang, kegaitan karnaval Jepang, dan aneka festival budaya.

Kebijakan Imigran Baru untuk Atasi Masalah kependudukan Jepang

Distribusi penduduk usia produktif dan non produktif di masing-masing negara tidaklah sama. Ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya di negara maju seperti Jepang. Kita bisa bayangkan bagaimana pengaruhnya dominansi penduduk usia produktif di suatu negara dengan negara yang didominasi oleh penduduk dengan usia non produktif. Usia produktif erat kaitannya dengan kemampuan seseorang yang mampu atau tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Sedangkan, penduduk masuk dalam kategori non produktif apabila yang bersangkutan tidak memiliki atau tidak mampu bekerja karena udzur. Lebih jauh lagi mengenai apa yang dimaksud penduduk usia produktif dan non produktif adalah sebagai berikut:

Masalah Kependudukan Jepang

Pengertian penduduk usia produktif dan non produktif

  • Penduduk usia produktif

Penduduk usia produktif adalah penduduk yang kisaran usianya ada di antara 15 hingga 64 tahun. Yang bersangkutan tidak lebih dari batas minimum dan maksimum rentang usia itu. Penduduk usia produktif adalah mereka yang mampu memproduksi produk atau jasa atau masih dalam kontrak kerja  dengan lembaga formal maupun non formal tertentu. Dari segi fisiknya bisa kita amati penduduk usia produktif adalah:

  1. Penduduk yang masih energik dan sanggup bekerja dengan maksimal.

  2. Produktif berkarya

  3. Mandiri, pekerja keras, memiliki visi misi hidup ke depannya dan mampu bekerja dengan cerdas.

Seorang anak yang sudah mencapai batas usia minimum, atau sedikitnya 16 tahun dan sudah memiliki pekerjaan berarti anak tersebut masuk dalam kategori usia produktif. Dia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan telah memasuki usia lebih dari batas minimum yang ditentukan.

  • Penduduk usia non produktif

Definisi penduduk usia non produktif atau udzur adalah penduduk yang dari segi usianya sudah lebih dari 64 tahun. Yang bersangkutan sudah tidak sanggup lagi beraktivitas yang sifatnya produktif karena faktor usianya yang sudah tua. Penduduk yang sudah udzur tenaganya berkurang dan tidak mampu lagi bekerja. Beberapa ciri penduduk yang masuk dalam kategori usia non produktif adalah:

  1. Tidak se-energik mereka yang masuk dalam kategori non produktif.

  2. Tenaga berkurang sehingga tidak mampu lagi beraktivitas seperti saat masih muda.

  3. Visi dan misi hidup ke depannya tidak lagi seputar meningkatkan kesejahteraan dengan bekerja keras tetapi lebih kepada bagaimana melangsungkan hidup di masa tuanya.

Jika ada seorang nenek yang sudah berusia 65 tahun namun masih bekerja, ini berarti sang nenek sudah tidak lagi masuk dalam kategori usia produktif sebab dari usianya sudah melampaui usia produktif.

Sekilas tentang Jepang

Negara Jepang yang terkenal dengan sebutan negara matahari terbit adalah negara yang maju dan populer dengan pencapaian masyarakatnya. Dalam bidang ekonomi, negara ini menduduki urutan ketiga dalam bidang ekonomi. Dalam bidang elektronik pencapaiannya nomor wahid dan menduduki urutan kedua dalam bidang industri mobil. Yup, prestasinya tidak lagi untuk cakupan local atau ASEAN saja, tetapi internasional. Akses untuk mencapai daerah satu dengan yang lain yang ada di Jepang sangat cepat dan mudah sebab negara ini menyediakan bullet trains yang mempermudah masyarakat menjangkau daerah-daerah yang ada di Jepang.

Dari segi kuliner, Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan menu khas Jepang yang sangat beragam, mulai dari tempura, okonomiyaki, sukiyaki, sashimi, sushi, dst. Satu lagi yang tidak kalah populernya adalah minuman teh hijau yang efektif untuk diet dan kesehatan.

Dalam bidang pendidikan, Jepang menjadi negara idaman pelajar di seluruh dunia untuk melanjutkan studinya di negeri Nippon ini. Ada banyak universitas terkenal di negara ini seperti universitas Tokyo, Universitas Kyoto, Universitas Keio, dan sebagainya.

Kondisi penduduk Jepang saat ini

Di balik pencapaiannya yang dibilang wow itu, beberapa tahun terakhir Jepang telah mengalami masalah yang serius dengan penduduknya. Masalah Kependudukan Jepang. Jumlah penduduk usia lanjut masuk dalam kategori sangat tinggi sedangkan angka kelahirannya sangat kecil. Apa penyebabnya?

  • Jepang adalah negara yang homogen artinya penduduk setempat negara ini adalah asli dan murni penduduk Jepang saja, tidak ada yang lain. Bahkan, Jepang sempat sangat terisolir dari dunia luar dan sangat membatasi datangnya imigran dari luar. Dahulu, satupun mungkin Anda tidak menemukan toko dan kantor yang diisi oleh imigran, namun saat ini pemandangan tersebut lebih mudah Anda dapati karena saat ini Jepang sedang krisis penduduk usia produktif.

  • Jumlah penduduk Jepang semakin lama semakin menurun. Jumlah penduduk usia lanjut sangat tinggi sedangkan jumlah penduduk usia produktif sangat rendah. Dari data yang ada, sejak tahun 2010 hingga 2015, jumlah penduduk asli Jepang berkurang hingga 1juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2017, jumlah penduduknya berkurang mencapai 227 jiwa. Pada tahun yang sama, penduduk usia lanjut mencapai titik tertinggi yaitu sebanyak 27 persen dan diperkirakan pada tahun 2020 mendatang total penduduk manula mencapai 40 persen.

  • Banyak lapangan kerja yang tersedia namun tidak cocok untuk penduduk usia senja dan kurang diminati oleh para penduduk usia muda. Ini berarti di Jepang tersedia banyak lapangan kerja yang memungkinkan untuk menerima imigran luar. Dari Sini, Jepang yang dulunya terisolir lambat laun mulai terbuka dengan kedatangan orang luar.

  • Teknologi semakin berkembang dan perkembangannya pun sangat cepat. Dari Situ tidak semua manula mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada. Beberapa pekerjaan yang kurang diminati oleh masyarakat Jepang, seperti pekerjaan galangan kapal, konstruksi dan pertanian sangat membutuhkan pekerja yang energik. Industri perhotelan yang ada disana memerlukan masyarakat asing yang memiliki kompetensi untuk berbicara bahasa inggris sehingga industri wisata di Jepang tetap berjalan sebagaimana mestinya. Banyak pula posisi perawat dan asisten rumah tangga yang kosong dan perlu segera diisi.

Selalu ada pro dan kontra dalam setiap kebijakan. Namun yang pasti masalah di atas adalah masalah yang pelik dan harus segera diatasi oleh masyarakat Jepang. Jumlah penduduk semakin menurun, angka kelahiran kecil, jumlah lansia sangat banyak, lowongan pekerjaan melimpah dan minim peminat. Jika dibiarkan demikian adanya terus menerus, masalah yang serius di hadapi bangsa Jepang sebab dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan politik sangat tinggi.

Dari Sini, pemerintah Jepang meng-inisiasi peraturan baru yang akan dirilis bulan April 2019 mendatang terkait kependudukan Jepang. Mindset bahwa Jepang harus di isolasi dan tidak terpengaruh dunia luar agaknya harus ditinjau ulang karena masalah krusial yang sedang dihadapi Jepang saat ini. Beberapa imigran asing mulai berdatangan untuk mengisi posisi pekerjaan yang kosong saat ini. Angka kelahiran di Jepang semakin menurun dan hanya mencapai 1001.000 bayi pada tahun 2014 lalu. Adapun prediksi jumlah penduduk setempat menurun sebanyak 30 persen dari total jumlah masyarakat Jepang yang ada saat ini yang disebabkan oleh beragam  faktor.

Referensi Masalah Kependudukan Jepang:

, ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.