Go to Top

Kebutuhan Pekerja Asing, Jepang Mengajak Indonesia Berunding

Kebutuhan Pekerja Asing

Jepang memang kekurangan tenaga pekerja asing. Bersumber dari, AFP, pada Jumat 1 Februari lalu, kurang lebih ada 161 pekerjaan untuk 100 pencari kerja di Jepang. Tentu sangat timpang dan ketimpangan ini adalah yang terbesar sejak 1973.

Jepang adalah negara dengan pendapatan ekonomi nomor 3 di dunia, sementara itu pada Desember 2018, perbandingan tenaga kerja dan jumlah pekerjaan di Jepang semakin meningkat seiring dengan makin turunnya jumlah tenaga kerja. Di sisi lain jumlah kelahiran yang cenderung rendah dan populasi penduduk tua yang semakin meningkat. Tingkat pengangguran di Jepang pada Desember 2019 hanya 2,4 persen, semakin rendah 0,1 persen dari bulan sebelumnya.

Sementara itu Jepang juga sedang berupaya untuk menghalau deflasi dengan menurunkan proyeksi inflasinya. Angka inflasi untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2019 menjadi 0,9 persen dari yang sebelumnya 1,4 persen.

Dalam tiga bulan terakhir, perekonomian Jepang terus menurun sejak September. Hal tersebut diakibatkan oleh bencana alam sehingga pengeluaran domestik dan ekspor terpengaruh.

Namun berdasarkan berbagai indikator di antaranya adalah perekonomian global yang membaik, beberapa analis menilai perekonomian akan kembali normal pada kuartal terakhir.

Sumber: https://ekonomi.kompas.com

Beberapa waktu lalu Kemenaker Indonesia menerima lawatan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Perindustrian (METI) Jepang dalam rangka membicarakan besarnya kebutuhan pekerja asing di Jepang.

Rombongan METI yang dipimpin oleh Yoko Ikeda diterima secara langsung oleh Bambang Satrio Lelono, Dirjen Binalattas di ruang kerjanya. Beliau mengatakan bahwa Indonesia akan siap memenuhi kebutuhan Jepang akan tenaga kerja.

Menurut beliau Indonesia percaya diri bisa membantu Jepang memenuhi kebutuhan TKI ke Jepang karena saat ini pemerintah sedang fokus terhadap program peningkatan kualitas SDM.

Dirjen Satrio mengatakan bahwa dirinya menyambut gembira kunjungan METI Jepang. Sementara itu pada pertemuan tersebut juga ikut hadir Taro Ataki yang merupakan perwakilan dari kedutaaan besar Jepang di Jakarta, Hiro Yoshida dari Japan External Trade Organization, Satoshi Miyajima (presdir PT OS Selnajaya Indonesia) dan Imron Munfaat, direktur dari PT yang sama.

Tentang SDM yang jadi fokus pemerintah Indonesia, Dirjen Satrio menjelaskan bahwa Kemenaker berfokus terhadap peningkatan kompetensi melalui Balai Latihan Kerja dan secara optimisti bahwa lululusannya nanti akan mampu bersaing di dalam maupun luar negeri seperti Jepang. Satrio meminta Jepang segera merumuskan standar kebutuhan industri agar penyesuainan kurikulum di Balai Latihan Kerja hingga pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Jepang menjadi mudah.

Satrio mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia akan mengadopsi standar tersebut dan menjadikannya sebagai standar kompetensi kerja (SKK) khusus bagi pedoman dalam proses pelatihan maupun uji kompetansi bagi calon TKI di Jepang.

Adapun menurut Yoko Ikeda, pertemuan METI dengan Kemenaker ini sangat terkait dengan kebutuhan pekerja asing oleh Jepang dari Indonesia. Untuk itu mulai 1 April 2019, akan ada 14 sektor pekerjaan yagn diberlakukan visa kerja baru untuk tenaga kerja asing. Yoko Ikeda menyebutkan bahwa selama ini Jepang sangat terbantu dengan program pemagangan dari Indonesia. Visa kerja baru tersebut nantinya ditujukan bagi peserta magang yang telah menyelesaikan program pemagangan untuk berkesempatan bekerja di Jepang. Disebut tokuteiginou, visa kerja keterampilan khusus akan dibagikan untuk mereka.

Meskipun tidak cukup jika hanya mengandalkan peserta magang, skema visa kerja tokuteiginou tersebut diharapkan bisa menarik minat peserta magang yang telah pulang ke Indonesia bisa kembali bekerja di Jepang.

Ikeda menambahkan bahwa selain dari jalur visa magang khusus, ada juga jalur melalui pemegang visa pendidikan yng disebut ryugakusei. Visa ini ditujukan untuk tenaga kerja baru yang belum pernah bekerja di Jepang, namun mempunyai kemampuan bahasa dan tingkat keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pekerja asing pada industri di Jepang.

,