Go to Top

Belajar Bahasa Indonesia untuk Orang Jepang di Industri Karawang

Saat ini, banyak perusahaan Jepang yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Para karyawannya tidak hanya orang Jepang, tetapi kesempatan yang sama juga diberikan kepada pemuda – pemudi  asal Indonesia untuk bersama-sama membangun perusahaan agar terus berkembang. Sebelum mereka bergabung, para peserta melakukan berbagai tahap tes di antaranya tes pengetahuan alam atau kemampuan bahasa yang dimiliki, psikotes, dan fisik. Dari sekian banyak orang yang mendaftar, hanya sebagian saja yang lulus dan siap bekerja.

20150227_165435[1]

Para peserta yang lulus dapat ditempatkan di bagian Office, produksi, atau bagian lain tergantung dari keahlian yang dimiliki. Namun ada juga bagian yang lebih penting dari sebuah perusahaan Jepang yaitu translator atau penerjemah.

Belajar Bahasa Indonesia untuk Orang Jepang di Industri Karawang

Para petinggi perusahaan yang sebagian besar adalah orang Jepang, jelas mereka akan merasa kesulitan jika harus berkomunikasi dengan orang Indonesia untuk berdiskusi suatu masalah. Tidak hanya itu, mereka juga harus menyampaikan sebuah perintah, nasihat, atau teguran untuk karyawannya yang kebanyakan orang Indonesia demi kemajuan perusahaannya .

Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat yang cinta terhadap bahasanya sendiri. Bukannya mereka tidak mau mempelajari bahasa asing tetapi lidah mereka cukup sulit untuk mengucapkan beberapa kalimat dari bahasa asing. Berbeda dengan masyarakat kita karena dianggap lebih fleksibel. Jika warga asing datang ke tanah mereka, warga asing itulah yang harus pandai mengucapkan sepatah atau dua patah kalimat dari bahasa mereka seperti mengucapkan salam, meminta bantuan, atau mengemukakan pendapat. Tetapi bukan berarti sekolah-sekolah di Jepang tidak diajarkan bahasa asing. Sistem pendidikan mereka juga menyediakan kurikulum bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Seiring berjalannya waktu, generasi dan pola pikir orang Jepang mulai berubah. Sebagian besar dari masyarakatnya mulai sadar akan manfaat dari menguasai bahasa luar, terutama para petinggi dari sebuah perusahaan yang berinvestasi di tanah milik negara lain, contohnya negara kita. Mereka mau tidak mau harus mencicipi bahasa Indonesia, karena mereka tidak hanya berkomunikasi dengan rekan se-negaranya saja, tetapi juga dengan masyarakat kita.

Lain halnya jika mereka menggunakan jasa seorang penerjemah. Seorang penerjemah akan dibayar mahal sesuai dengan tingkat pendidikan dan pengalamannya. Oleh karena itu, banyak juga para lulusan dari sastra Jepang yang dibutuhkan oleh pihak perusahaan. Tetapi, sekarang sudah berbeda. Orang Jepang mulai berbondong-bondong mencari seorang pengajar langsung dari orang Indonesia.

Salah satunya adalah Shiroaki Wakai. Pria bermata sipit ini belum lama tinggal di Indonesia dan bekerja di salah perusahaan ternama di Karawang. Dia juga pernah bercerita kalau sebelumnya pernah belajar bahasa Indonesia selama 20 jam secara privat. Dari hasil belajarnya itu, dia dapat mengungkapkan kalimat sederhana dalam bahasa Indonesia. Tetapi, tidak dilanjutkan lagi karena kesibukannya.

Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk belajar kembali karena faktor keadaan : dia tinggal di Indonesia, bekerja di Indonesia, dan berteman dengan orang Indonesia. Oleh karena itu, dia langsung memanggil tenaga pengajar baru untuk mengajarkannya kembali. Dalam kesempatan ini, dia memilih Tensai untuk bekerjasama dengannya.

Pak Wakai, begitu pengajarnya memanggilnya, hanya belajar satu kali dalam seminggu. Tempat belajarnya juga bukan di kelas, tetapi di ruang meeting perusahaan tempatnya bekerja. Walaupun sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk belajar. Pernah suatu ketika atasannya tiba-tiba menelepon dan mengajaknya berdiskusi. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah, sepertinya dia sedang menghadapi masalah yang cukup sulit. Atau pernah juga di sela-sela belajar, tiba-tiba temannya datang dan menggodanya dengan mengajaknya berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Walaupun terbata-bata, dia berusaha menjawab pertanyaan dari temannya yang juga menggunakan bahasa Indonesia.

Selama belajar ada saja hal unik yang terjadi. Contohnya, ketika dia belajar mengucapkan lafal ‘ng’, berkali-kali harus diulang karena dia tidak dapat mengucapkannya, yang ada hanya ‘g ‘(ge) saja. Kemudian pada saat belajar pola kalimat kata tunjuk benda seperti ‘ini apa?’ atau ‘apa itu?’. Dengan aksen yang khas dia menyebutkan beberapa kata benda menggunakan bahasa Indonesia. Meskipun terlihat kesulitan, semangatnya tidak pernah luntur untuk terus belajar.

Selain mempelajari kosakata dan pola kalimat, dia juga diperkenalkan dengan kebudayaan dari Indonesia, tempat-tempat wisata, hingga makanan khasnya. Dan, makanan Indonesia yang paling disukai pak Wakai adalah sup buntut. Dia juga pernah dibawakan rujak oleh pengajarnya karena dia penasaran dengan bentuknya. Ketika dibawakan, dia terlihat senang sekali dan bertanya ini dan itu sebelum memakannya, seperti bertanya ‘ini apa?’ (sambil menunjuk sambal), setelah dijawab kalau benda itu adalah sambal, dia bertanya lagi ‘sambal apa?’, karena dia sudah tahu kalau Indonesia memiliki berbagai macam jenis sambal.

Setelah mencicipinya, dia berkata ‘rujak adalah makanan enak tetapi pedas’. Dia juga bertanya banyak hal tentang buah-buahan yang ada di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki berbagai jenis macam buah dan tidak semuanya dapat ditemukan di Jepang. Dari buah-buahan yang disediakan, pak Wakai paling suka mangga. Sedangkan buah yang tidak disukai adalah kedondong karena rasanya asam. Selain itu, dia juga diperkenalkan jenis suit ala orang Indonesia yang terdiri dari kelingking sebagai semut, jempol sebagai gajah, dan telunjuk sebagai orang. Dia juga tertarik dengan musik dangdut yang dibawakan oleh Cita Citata dengan lagunya yang berjudul ‘sakitnya tuh disini’, karena pada saat pelajaran usai, dia selalu bersenandung dengan lagu itu. Disamping itu, dia juga tertarik dengan bahasa daerah, karena ketika pengajar mengucapkan ‘ora opo-opo’ dia langsung meminta untuk mengucapkannya lagi dan mencatatanya di buku catatannya. Bahasa gaul pun juga dia dapatkan walaupun tidak semua, seperti kata ‘ciyus’ atau ‘serius’. Semuanya dia catat di buku catatannya. Mungkin sekali-sekali dapat digunakan agar suasananya tidak selalu formal, pikirnya.

Menurut pengajarnya, memang tidak mudah mengajar orang asing karena perbedaan bahasa dan budaya. Tetapi hal tersebut merupakan tantangan yang seru dan luar biasa menarik. Siapapun dapat mencobanya dengan bermodalkan keinginan yang kuat, persiapan materi, serta metode pengajarannya.

, , ,